berAKHLAK removebg previewheader ms kutacane 2021

Kajian Dhuha MS Kutacane: Sedekah dengan Ikhlas, Menjemput Rezeki Tanpa Mengharap Pujian

on .

on . Dilihat: 8

1

ms-kutacane.go.id – Kutacane – Mahkamah Syar’iyah Kutacane kembali melaksanakan kegiatan Kajian Dhuha sebagai sarana untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan, meningkatkan keimanan, serta menumbuhkan kesadaran spiritual bagi seluruh aparatur. Kajian kali ini disampaikan oleh Bendahara Mahkamah Syar’iyah Kutacane, Ibu Nia Permata Siregar, dengan mengangkat pesan tentang pentingnya bersedekah secara ikhlas dan menjadikan setiap kebaikan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT.

Dalam kajiannya, Nia Permata Siregar mengingatkan bahwa sedekah merupakan salah satu amalan kebaikan yang memiliki nilai penting dalam kehidupan seorang muslim. Melalui sedekah, seseorang dapat berbagi rezeki, membantu sesama yang membutuhkan, serta menumbuhkan rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Sedekah juga menjadi salah satu jalan untuk mengharapkan keberkahan dan rezeki dari Allah SWT, dengan tetap menyadari bahwa setiap pemberian dan balasan berada dalam kehendak-Nya.

Namun, di balik amalan sedekah, terdapat satu hal mendasar yang harus senantiasa dijaga, yaitu keikhlasan. Sedekah hendaknya dilakukan dengan niat yang tulus karena Allah SWT, bukan semata-mata untuk memperoleh perhatian, pengakuan, atau pujian dari manusia. Keikhlasan menjadi bagian penting yang menentukan bagaimana seseorang memaknai setiap kebaikan yang dilakukannya.

Beliau juga mengingatkan bahwa tidak semua kebaikan harus diumumkan atau diketahui oleh orang lain. Seseorang tetap dapat berbuat baik tanpa perlu menceritakan setiap pemberian yang telah dilakukan. Bahkan, ketika sedekah diberikan secara diam-diam tanpa diketahui orang lain, hal tersebut dapat menjadi kesempatan untuk melatih ketulusan hati dan menjaga niat agar tetap berorientasi pada ridha Allah SWT.

Pesan ini menjadi pengingat bahwa nilai sebuah kebaikan tidak semata-mata terletak pada seberapa banyak orang yang mengetahuinya, melainkan juga pada niat yang mendasarinya. Pujian manusia bersifat sementara, sedangkan keikhlasan mengajarkan seseorang untuk tetap berbuat baik meskipun tidak mendapatkan pengakuan. Dengan demikian, sedekah tidak seharusnya dijadikan sarana untuk membangun citra diri, tetapi menjadi wujud kepedulian dan ketaatan kepada Allah SWT.

1

Lebih lanjut, seluruh aparatur diajak untuk membiasakan diri berbagi sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sedekah tidak harus selalu berupa pemberian dalam jumlah besar, karena setiap bentuk kebaikan yang dilakukan dengan tulus memiliki makna tersendiri. Memberikan sebagian rezeki, membantu orang yang sedang mengalami kesulitan, atau meringankan beban sesama merupakan bentuk kepedulian yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kehidupan yang penuh dengan berbagai kesibukan dan tanggung jawab, sikap gemar bersedekah juga dapat menumbuhkan rasa syukur atas rezeki yang telah diterima. Ketika seseorang menyadari bahwa apa yang dimilikinya merupakan karunia Allah SWT, ia akan lebih mudah memahami pentingnya berbagi dan tidak hanya berfokus pada kepentingan pribadi. Rasa syukur tersebut diharapkan dapat mendorong tumbuhnya kepedulian, kemurahan hati, dan keinginan untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

Kajian Dhuha ini juga mengajak setiap aparatur untuk tidak takut berbagi karena khawatir hartanya berkurang. Sedekah hendaknya dilakukan dengan keyakinan, keikhlasan, dan kebijaksanaan sesuai kemampuan. Pada saat yang sama, setiap orang perlu menjaga niat agar tidak menjadikan pujian sebagai tujuan utama dalam berbuat baik. Dengan membiasakan diri untuk memberi secara tulus, seseorang dapat melatih hati agar lebih rendah hati dan terhindar dari keinginan untuk selalu mendapatkan pengakuan atas kebaikannya.

Nilai-nilai yang disampaikan dalam kajian tersebut diharapkan tidak hanya menjadi bahan renungan, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun tempat kerja. Sikap ikhlas, peduli, dan bersyukur merupakan nilai positif yang dapat memperkuat hubungan antarsesama serta menciptakan lingkungan yang lebih harmonis. Bagi aparatur peradilan, penguatan nilai spiritual juga menjadi pengingat untuk senantiasa menjaga perilaku, menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

Melalui pelaksanaan Kajian Dhuha secara berkelanjutan, Mahkamah Syar’iyah Kutacane berharap kegiatan ini dapat menjadi sarana untuk memperkuat keimanan dan membangun karakter aparatur yang tidak hanya profesional dalam menjalankan tugas, tetapi juga memiliki akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tentang sedekah dengan ikhlas menjadi pengingat bahwa setiap kebaikan dapat dimulai dari hal sederhana, selama dilakukan dengan niat yang benar dan tanpa mengharapkan pujian dari manusia.

Kegiatan ini ditutup dengan harapan agar seluruh aparatur senantiasa diberikan kemudahan untuk berbagi, kelapangan rezeki, serta kemampuan menjaga keikhlasan dalam setiap amal kebaikan. Semoga sedekah yang dilakukan menjadi jalan untuk memperoleh keberkahan dan ridha Allah SWT, sekaligus menghadirkan manfaat bagi orang-orang yang membutuhkan.

Jangan takut berkurang karena memberi, dan jangan berbuat baik hanya agar dipuji. Sedekah yang tulus bukan tentang siapa yang melihat, melainkan tentang keikhlasan hati dalam mengharapkan ridha Allah SWT. Semoga Allah SWT melapangkan rezeki, memberkahi kehidupan, dan senantiasa menjaga keikhlasan hati kita dalam setiap kebaikan. Aamiin.

(Tim Media Mahkamah Syar'iyah KutaCane)

CCTV Online